Jakarta — Future Cities Infrastructure Programme (FCIP) secara resmi diluncurkan, menandai komitmen kuat antara Inggris dan Indonesia untuk mendukung pembangunan perkotaan yang berkelanjutan dan tangguh terhadap perubahan iklim. Untuk mewujudkan tujuan bersama tersebut, lokakarya ini mempertemukan perwakilan kementerian Indonesia, lembaga keuangan, mitra pembangunan, serta pemerintah daerah dan provinsi dari berbagai wilayah Indonesia. Mereka saling berbagi wawasan tentang lanskap infrastruktur berkelanjutan dan tantangan pengembangan proyek di Indonesia, dengan fokus pada tiga sektor utama: Bus Rapid Transit (BRT), pengelolaan sampah padat, dan ketahanan terhadap banjir.
Sebagai bagian dari inisiatif MELAJU, kemitraan Inggris–Indonesia untuk infrastruktur berkelanjutan, FCIP bertujuan memperluas akses pembiayaan bagi infrastruktur yang tangguh terhadap perubahan iklim dengan meningkatkan kualitas proyek melalui bantuan teknis dan pertukaran pengetahuan yang terarah.

Lokakarya dibuka oleh Matthew Downing, Deputy Duta Besar Inggris untuk Indonesia, MELAJU platform kemitraan Inggris–Indonesia untuk infrastruktur berkelanjutan dan berbagai inisiatifnya, termasuk Future Cities Infrastructure Programme, yang berkontribusi terhadap pencapaian Visi Indonesia Emas 2045 dan target Net Zero 2060 melalui kolaborasi yang inklusif dan berorientasi hasil.

Sesi interaktif membahas tantangan dan peluang dalam pembiayaan proyek infrastruktur tangguh iklim. Panel pertama menghadirkan Bapak Abdul Malik Sadat Idris, ST, M.Eng., Deputi Bidang Infrastruktur Bappenas, yang menekankan pentingnya persiapan proyek yang matang sebagai kunci untuk memperoleh pembiayaan yang berkelanjutan.

Panel kedua menampilkan pandangan dari berbagai pemangku kepentingan utama dalam ekosistem pembiayaan infrastruktur di Indonesia — termasuk Bappenas, World Bank, PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), dan Indonesia Infrastructure Finance (IIF) — yang membahas strategi untuk memperkuat kolaborasi dan menggerakkan sumber daya
Dalam sesi kelompok, peserta mengidentifikasi tantangan aktual serta potensi dukungan FCIP untuk proyek-proyek di bidang transportasi massal (BRT), pengelolaan sampah padat, dan pengendalian banjir. Diskusi ini juga menyoroti keterlibatan awal FCIP dengan beberapa pemerintah daerah, dengan Pekanbaru, Bali, dan Cilegon sebagai wilayah pertama yang akan menerima dukungan teknis.
Sesi Bus Rapid Transit (BRT) membahas area potensial dukungan FCIP, seperti pembentukan BUMD sektor transportasi, pengelolaan kontrak multiyears, serta peningkatan akses ke pembiayaan berkelanjutan.

Sesi pengelolaan sampah padat memaparkan hasil diagnosis dari rantai nilai pengelolaan sampah di Cilegon, disertai studi kasus dari Bologna dan Roma, Italia. Pemerintah daerah dari Surabaya, Malang, dan Padang turut berbagi pengalaman dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah mereka.

Sesi pengendalian banjir membahas dukungan FCIP untuk pengembangan infrastruktur yang inklusif dan tangguh terhadap iklim, penerapan solusi berbasis alam (nature-based solutions) dan mekanisme pembiayaan inovatif.
Lokakarya ditutup dengan seruan bersama untuk bertindak — mengundang kota-kota di seluruh Indonesia untuk berkolaborasi dalam mewujudkan masa depan perkotaan yang lebih hijau, tangguh, dan inklusif.